Mas iman Jadi pejantanku - Cewek Hot - Cewek Panas - Cewek Indonesia - Cewek Abg Plus - Pijit Plus

Breaking

Home Top Ad


Post Top Ad

Responsive Ads Here

Monday, March 11, 2019

Mas iman Jadi pejantanku


Mas iman Jadi pejantanku

Rumah yang mewah, uang yang berlebihan dan fasilitas hidup yang lebih dari cukup ternyata bukan kunci kebahagiaan untuk seorang wanita. Apalagi untuk seorang wanita yang muda, cantik dan penuh vitalitas hidup seperti Sari. Sudah satu bulan ini ia ditinggal suaminya bertugas ke luar kota. Padahal mereka belum lagi enam bulan menikah. Pasti semakin mengesalkan juga, untuk Sari, kalau tugas dinas luar kota diperpanjang di luar rencana. Seperti malam itu, ketika Baskoro, suami Sari, menelepon untuk menjelaskan bahwa ia tidak jadi pulang besok karena tugasnya diperpanjang 2 3 minggu lagi. Sari keras memprotes, tapi menurut suaminya mau tidak mau ia harus menjalankan tugas. Waktu Sari merayunya, supaya bisa datang untuk weekend saja, Baskoro menolak. Katanya terlalu repot jauhjauh datang hanya untuk sekedar indehoy. Dengan hati panas Sari bertanya: Lho mas, apa kamu nggak punya kebutuhan sebagai lakilaki? Mungkin karena suasana pembicaraan dari tadi sudah agak tegang seenaknya Baskoro menjawab, Yah namanya lakilaki, di mana aja kan bisa dapet.
Dalam keadaan marah, tersinggung, bercampur gemas karena birahi, Sari membanting gagang telepon. Ia merasa sesuatu yang nakal harus ia lakukan sebagai balas dendam kepada pasangan hidup yang sudah demikian melecehkannya. Kembali ia teringat kepada pembicaraannya dengan Minah beberapa hari yang lalu, kala ia tanyakan bagaimana pembantu wanitanya itu menyalurkan hasrat sexnya.

Baca Juga : Aplikasi Hp yang Bisa Melihat Manusia Tanpa Busana Alias Bugil.

Waktu itu ia bercanda mengganggu janda muda yang sedang mencuci piring di dapur itu. Minah, kamu rayu aja si Iman. Kan lumayan dapet daun muda. Minah tersenyum malumalu. Katanya, Ah ibu bisa aja Tapi mana dia mau lagi. Lalu sambil menengok ke kanan ke kiri, seolahlah takut kalau ada yang mendengar Minah mengatakan sesuatu yang membuat darah sari agak berdesir. Bu, si Iman itu orangnya lumayan lho. Apalagi kalau ngeliat dia telanjang nggak pakai baju. Purapura kaget Sari bertanya dengan nada heran: Kok kamu tau sih? Tersipusipu Minah menjelaskan. Waktu itu malammalam Minah pernah ke kamarnya mau pinjem balsem. Diketukketuk kok pintunya nggak dibuka. Pas Minah buka dia udah nyenyak tidur. Baru Minah tau kalau tidur itu dia nggak pakai apaapa. Tersenyum Sari menanyakan lebih lanjut. Jadi kamu liat punyaannya segala dong? Kata Minah bersemangat, Iya bu, aduh duh besarnya. Jadi kangen mantan suami. Biarpun punyanya nggak sebesar itu. Setengah kurang percaya Sari bertanya, Iman? Si Iman anak kecil itu? Iya bu! Minah menegaskan. Iya Iman si Pariman itu. Kan nggak ada yang lainnya tho bu. Lalu dengan nada bercanda Sari bertanya mengganggu,Terus si Iman kamu tomplok ya? Sambil melengos pergi Minah menjawab, Ya nggak dong bu, kata Minah sambil buruburu pergi.

Dalam keadaan hati yang panas dan tersinggung jalan pikiran Sari menjadi lain. Ia yang biasanya tidak terlalu memperdulikan Iman, sekarang sering memperhatikan pemuda itu dengan lebih cermat. Beberapa kali sampai anak muda itu merasa agak rikuh. Dari apa yang dilihatnya, ditambah cerita Minah beberapa hari yang lalu, Sari mulai merasa tertarik. Membayangkan barang kepunyaan Iman, yang kata Minah aduh duh itu membuat Sari merasa sesuatu yang aneh. Mungkin sebagai kompensasi atau karena gengsi sikapnya menjadi agak dingin dan kaku terhadap Iman. Iman sendiri sampai merasa kurang enak dan bertanyatanya apa gerangan salahnya.
Pada suatu hari, setelah sekian minggu tidak menerima nafkah batinnya, perasaan Sari menjadi semakin tak tertahankan. Malam yang semakin larut tidak berhasil membuatnya tertidur. Ia merasa membutuhkan sesuatu. Akhirnya Sari berdiri, diambilnya sebuah majalah bergambar dari dalam lemari dan pergilah ia ke kamar Iman di loteng bagian belakang rumah. Pelanpelan diketuknya pintu kamar Iman. Setelah diulangnya berkalikali baru terdengar ada yang bangun dari tempat tidur dan membuka pintu. Wajah Iman tampak kaget melihat Sari telah berdiri di depannya. Apalagi ketika wanita berkulit putih yang cantik itu langsung memasuki ruangannya. Agak kebingungan Iman melilitkan selimut tipisnya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Melihat tubuh Iman yang tidak berbaju itu Sari menelan air liurnya. Lalu dengan nada agak ketus ia berkata, Sana kamu mandi, jangan lupa gosok gigi. Iman menatap kebingungan, Sekarang bu? Dengan nada kesal Sari menegaskan, Ia sekarang ,,, udah gitu aja nggak usah pake baju segala. Tergopohgopoh Iman menuju ke kamar mandi, memenuhi permintaan Sari. Sementara Iman di kamar mandi Sari duduk di kursi, sambil me!ihatlihat sekitar kamar Iman. Pikirnya dalam hati, Bersih, rapih juga ini anak.

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here