Kisah nyata Penuntut ilmu hitam tobat jadi ustadz - Cewek Hot - Cewek Panas - Cewek Indonesia - Cewek Abg Plus - Pijit Plus

Breaking

Home Top Ad


Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tuesday, May 8, 2018

Kisah nyata Penuntut ilmu hitam tobat jadi ustadz

Kisah nyata Penuntut ilmu hitam tobat jadi ustadz





Kisah nyata bersekutu dengan jin setan iblis paling seram dan menakutkan.Langsung saja kita simak kisah nyata gaib misterinya.

Untuk menghidupi keluarganya, Pak Soma membuat batu bata merah, untuk kemudian dijual kepada para pemesannya. Namun uang hasil penjualan batu bata hanya paspasan saja. Akibatnya selama bertahun-tahun Pak Soma tak dapat menyisihkan uang sepeserpun untuk ditabung demi masa depan.

“Kalau begini terus keadaannya, kapan aku bisa jadi orang kaya. Bagaimana dengan nasib anak-anakku,” gumamnya seorang diri. Berulang kali ia menyesali nasibnya. Namun, apa yang diharapkannya tetap saja tak kunjung tiba. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari jalan lain guna mewujudkan impiannya.

Di waktu senggang Pak Soma mencari informasi di mana ada orang pintar. Rupanya ia bernasib baik. Pada suatu hari salah seorang temannya berkunjung ke rumahnya. Alangkah senangnya Pak Soma bisa bertemu kembali dengan temannya yang bernama Cecep.

Setelah mereka saling melepaskan rindu karena lama tidak bertemu, maka Pak Soma mengajak Cecep untuk menginap saja di rumahnya, mengingat sang teman tinggal jauh di daerah Garut.

Malam harinya ketika mereka sedang asyik menceritakan pengalamannya masing-masing, sambil menikmati secangkir kopi hangat di ruang depan, tiba-tiba pak Soma berkata, “Oh ya, Cep, aku ingin bertanya kepadamu. Tahukah kau dimana ada dukun sakti, yang sekiranya bisa merubah kehidupan keluargaku yang buruk ini?”

Mendengar pertanyaan sahabatnya itu, Cecep menjawab, “Ada, tapi tempat tinggalnya jauh dari kota Garut. Kalau tidak salah dukun yang kau cari itu tinggal di gunung Puntang, daerah Garut Selatan, jadi cukup jauh dan sini.”

Selanjutnya Cecep juga menjelaskan bahwa dukun sakti yang bisa mengubah nasib seseorang itu namanya Aki Akna. Dia memiliki ilmu yang tinggi. Menurut kabar, sudah banyak orang yang datang ke rumah Aki Akna untuk meminta berbagai keperluan, seperti ingin mempunyai suami yang setia, ingin menjadi orang kaya-raya dan lain-lain.

“Pada umumnya keinginan orang-orang tadi terpenuhi,” ucap Cecep meyakinkan.

Sebagai jawaban Pak Soma hanya menganggukkan kepala. Dalam hati ia merasa bersyukur karena telah kedatangan Cecep, yang secara tidak langsung telah memberikan jalan keluar untuk menggapai impiannya.

Sepulang Cecep, Pak Soma segera mempersiapkan diri untuk pergi ke gunung Puntang yang terletak di Garut Selatan. Maksudnya tak lain dan tak bukan untuk menemui Aki Akna, dukun sakti yang terkenal itu.





Setelah berpamitan dan mohon restu dari istrinya, pagi-pagi buta Pak Soma berangkat ke gunung Puntang. Setelah menempuh perjalanan cukup lama dengan bus, ditambah dengan berjalan kaki, akhirnya Pak Soma tiba di tempat tinggal Aki Akna yang hanya berupa gubug.

Setelah memperkenalkan diri, Pak Soma langsung dipersilahkan masuk. Seusai mengambil tempat dan berbasa-basi sejenak, tanpa ragu ia mengutarakan maksud kedatangannya. Dikatakannya bahwa selama ini keluarganya hidup dengan sangat kekurangan.

Usaha mencetak batubata yang dikerjakannya terkadang tidak menghasilkan apa-apa.

“Karena itu, saya siap menempuh resiko dan cara apapun yang penting kehidupan keluarga saya berubah, Ki!” Pak Soma menegaskan.

Selesai Pak Soma mengutarakan isi hatinya, Aki Akna hanya manggut-manggut sambil berucap, “Ya, ya, saya tahu keinginanmu yang sudah lama kau pendam dalam hati. Kamu ingin menjadi orang kaya, bukan begitu?”

Pak Soma hanya mengagguk. Dalam hati mulai terbayang impiannya itu akan berubah menjadi kenyataan.

Selanjutnya Aki Akna berkata kepada Pak Soma, “Baiklah, kau harus menginap disini selama dua malam. Kau mau?”

“Mau, Ki! ujan Pak Soma.

Kebetulan, malam di saat Pak Soma menginap itu adalah malam Selasa Kliwon, malam bulan purnama. Aki Akna menyuruh Pak Soma tidur di bawah pohon dekat sebuah makam tua. Pak Soma yang sudah nekad itu menurutinya.











Tengah malam, Pak Soma dibangunkan oleh Aki Akna, kemudian diajak menuju pancuran air bambu yang besarnya sebesar betis, airnya mencurah deras ke suatu kolam berukuran 2 meter kali 3 meter. Air itu sangat dingin.

Aki Akna kemudian menebaskan goloknya pada bambu sebesar betis tersebut. Maka tersobeklah kulit bambu itu. Kulit bambu itu jatuh ke dalam kolam namun tak tenggelam melainkan terapung.

“Ambillah sobekan kulit bambu itu!” demikian perintah Aki Akna kepada Pak Soma.

Pak Soma pun segera mencebur ke kolam itu sesual perintah Aki Akna. Setelah sekian lama berusaha, akhirnya Pak Soma berhasil mendapatkan sobekan kulit bambu itu, meski dengan sekujur tubuh menggigiI akibat terpaan udara yang sangat dingin.

Setelah keluar dari kolam, Pak Soma merasakan badannya lemas dan sangat kedinginan. Aki Akna menolong Pak Soma dan mengajaknya berdialog di perapian sampai badannya terasa hangat kembali.

Kemudian dengan pisau kecil namun tajam Aki Akna menulisi kulit bambu tadi dengan huruf-huruf yang sulit dimengerti, tulisan itu adalah identitas diri Pak Soma, berupa hari kelahiran dan tanggal, Tulisan itu dibuatnya dengan menorehkan pisau yang sangat tajam, lalu dibungkus dengan kain putih, dijahit dan diberi tali.

Aki Akna kemudian berkata, “Ikatkan jimat ini di pingganggmu. Jangan sampai terlepas. Pantangan yang utama adalah jangan makan daging mentah (berzinah),” demikian nasehat Aki Akna. Dan pak Soma pun sanggup mentaati syarat itu.

Sekembalinya dari tempat Aki Akna yang tinggal di gunung Puntang, Pak Soma Iangsung mendapatkan order pesanan batu merah untuk pembangunan perumahan di kota Bandung. Sejak itu Pak Soma menjadi pemasok batu bata merah untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.


Pesanan batu bata merah pak Soma makin lama makin meningkat dan melimpah ruah. Pak Soma pun berubah menjadi juragan batu bata yang kaya raya.

Namun, sesuai dengan papatah, “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak”, suatu saat pak Soma lupa akan nasehat Aki Akna. Pada suatu malam, di sebuah rumah makan di jalur kota Bandung-Cirebon, Pak Soma berkenalan dengan seorang wanita tuna susila yang bahenol.

Pak Soma akhirnya berkencan dengan wanita penjaja cinta murahan tersebut. Sehabis berkencan Pak Soma kecapaian, akhirnya tidur pulas sekali. Ketika bangun tidur ia terkejut setelah mengetahui bahwa jimat pemberian Aki Akna telah hilang dicuri oleh pelacur yang meninggalkannya sendirian.

Sekembalinya dari rumah makan itu Pak Soma segera pergi ke gunung Puntang untuk menemui Aki Akna. Tapi waktu itu Aki Akna telah lama meninggal dunia. Pak Soma hanya bisa gigit Jari menyesali kecerobohannya.

Sekarang, Pak Soma kembali jatuh miskin, hidup sederhana. Order pembuatan batu bata sontak terhenti.

Sebenarnya jimat apakah yang diberikan Aki Akna kepada Pak Soma? Menurut kisah lelaki yang kini hidup sebagai petani miskin itu,tersebut sebenarnya adalah suatu bentuk piagam perjanjian dengan sejenis jin pemilik baitul mal di alam gaib.

Proses yang terjadi dialam nyata, sesungguhnya adalah dengan peran serta jin itu. Bila Pak Soma bisa menjadi kaya saat memegang jimat itu, dikarenakan si jin ikut berperan mempengaruhi orang lain agar membeli batu bata yang diproduksi Pak Soma.

Sayangnya, setelah impiannya tercapai, orang memang bisa lupa diri. Begitulah yang terjadi terhadap diri Pak Soma. Dengan raibnya jimat itu, maka batallah semua penjanjian yang dijalin lewat perantara Aki Akna dengan jin penunggu baitul mal gaib itu.(misteri)

itulah kisah cerita misteri nyata terbaru persekutuan manusia dengan jin pesugihan.Semoga terhibur




No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here