kumpulan cerita misteri alam gaib kisah nyata korban tragis pesugihan - Cewek Hot - Cewek Panas - Cewek Indonesia - Cewek Abg Plus - Pijit Plus

Breaking

Home Top Ad


Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tuesday, May 8, 2018

kumpulan cerita misteri alam gaib kisah nyata korban tragis pesugihan

kumpulan cerita misteri alam gaib kisah nyata korban tragis pesugihan





Walau baru beberapa tahun menempati rumah kuno yang terletak di jalan utama kecamatan yang terletak tak jauh dari kaki bukit yang subur, namun, kekayaan Bidan Sri terus saja bertambah..

Kota kecamatan yang terletak tak jauh dari kaki bukit yang subur dengan hamparan sawah yang menguning serta gemericik air sungai, terdapat sebuah bangunann kuno nan megah bekas peninggalan masa lalu, yang konon dimiliki oleh Tuan Van Meijer.

Salah seorang tuan tanah yang memiliki puluhan petak sawah dan perkebunan kayu manis yang demikian luas.

Pada zamannya, hampir kebanyakan penduduk, bekerja untukTuan Van Meijer, sedang sebagian Iainnya, bekerja di tanah miliknya sendiri atau mencari pengalaman dengan cara merantau keluar kota.

Tuan Van Meijer yang tidak punya keturunan itu, memang dikenal sebagai sosok yang santun dan budiman. Oleh sebab itu, masyarakat pun senang. Bahkan, hampir tiap sore, halaman rumahnya yang luas dipakai untuk bermain-main oleh anak anak para pekerjanya.

Alih-alih marah, tiap ada kesempatan, Tuan Van Meijer beserta istrinya pasti Iangsung keluar dan turut bermain serta membagi-bagikan permen atau sekadar. makanan kepada anak-anak itu.

Yang paling meriah jika ada panen raya, Tuan Van Meijer menggelar kesenian rakyat selama seminggu pada saat itu, selain seluruh pekerjanya libur, mereka pun mendapatkan bonus berupa uang.

Tak cukup sampai di situ, Tuan Van Meijer, kadang memperbaiki rumah milik karyawannya yang dianggap sudah tidak layak huni dan membiayai seluruh anak-anak untuk menuntut ilmu di sekolah yang ada di sudut jalan, tepat, di pinggiran kebun kayu manisnya.

Boleh dikata, seluruh masyarakat di tempat itu seolah merasa hidup si segumpal tanah surga yang sengaja dijatuhkan Allah ke bumi.

Ketika Belanda digantikan oleh Jepang, Tuan Van Meijer dan istrinya yang sudah sakit-sakitan itupun meninggal dunia. Seluruh karyawan berkabung.

Sebelumnya, Tuan Van Meijer telah mewasiatkan agar pekebunan miliknya dibagi-bagi kepada seluruh karyawan dengan adil, hanya saja, Ia lupa menyebutkan siapa pewaris dan rumah tinggalnya.

Oleh sebab itu, berbilang tahun, bekas kediaman Tuan Van Meijer dibiarkan kosong, dan menurut bisik-bisik, kadang, berkelebat bayangan pemilik, terutama, ketika sedang purnama penuh. Sesekali, pasangan itu duduk di ruang tamu atau di halaman seolah sedang mengamati bunga bungaan yang tumbuh subur di sana.

Walau beberapa orang penduduk pernah melihat kelebat bayangan sang pemilik rumah, namun, penampakan Tuan Van Meijer dan istrinya seolah tak membuat kebanyakan orang menjadi takut.

Mereka yakin, sebagaimana waktu hidup, Tuan Van Meijer beserta istrinya tak bakal mengganggu mereka.

Hari terus berlalu, kini, sebagian besar rumah besar itupun tampak kian menakutkan. Di sana-sini sudah tampak rusak. Warna temboknya pun tak lagi putih, bahkan, pepohonan bunga yang semula memenuhi sebagian halaman, kini sudah tak Nampak lagi. Yang ada hanyalah batang batang ilalang dan semak yang tumbuh subur.

Kini Kota kecamatan itu kian ramai. Walau begitu, bangunan kuno yang terletak di tengah-tengah jalan utama, tetap saja kosong. Hanya sesekali, terutama pada tengah dan akhir tahun, Pak Darmo, keturunan pertama dari Pak harjo, orang kepercayaan Tuan Meijer tampak membersihkan halaman rumah itu.

Ia akan menyeka keningat yang mengalir di dahinya dengan punggung tangan, kemudian mengumpulkan rerumputan dan membakarnya di bagian belakang rumah. Menjelang senja, Pak Darmo pun pulang ke rumahnya sambil tersenyum puas.

Ketika ditanya kenapa melakukan hal itu, dengan senyum, Par Darmo pun menjawab; “Sebagai balas budi terhadap segala kebaikan Tuan Van Meijer yang telah memberikan segalanya kepada keluarga saya”.

“Bayangkan”, lanjutnya, “kami yang melarat dan hanya pekerja kasar, setelah ditinggal Tuan Van Meijer, bisa punya rumah dan kebun”, ujarnya menambahkan.

Beberapa bulan setelah dibersihkan, ada serombongan orang yang datang dan bertanya siapa gerangan pemilik ahli wanis dari rumah itu. Semua yang ditanya hanya bisa bersitatap antara satu dengan lainnya.

Ketika itu, tiba-tiba, ada yang menyahut, “Bagaimana jika kita tunjuk Pak Darmo?”

“Setuju ..., dulu, Mbah Harjo ayahnya adalah orang kepercayaan Tuan Van Meijer,” sambung Pak Kasdi.

Singkat kata, akhirnya, mereka membawa rombongan tersebut ke rumah Pak Darmo yang terletak di pinggiran kebun kayu manis.

Setibanya di sana, mereka pun mengutarakan maksudnya mengontrak rumah kuno tersebut selama beberapa tahun untuk kegiatan persalinan maklum, wanita berwajah cantik yang sangat berminat untuk mengontrak adalah seorang bidan.

Setelah terdiam beberapa lama, akhirnya, dengan suara berat, Pak Darmo pun menjawab; “Baik ... saya setuju. Uangnya nanti kita gunakan untuk memperbaiki makam beliau.”

“Sebaiknya, kita selenggarakan sebagaimana mestinya,” tukas Pak Kasdi.

“Maksudnya?” Potong Pak Darmawan.

“Kita adakan selamatan, baru kemudian dipugar. Kalau mungkin, buat yang sebagus-bagusnya. Dan sisa uangnya, nanti kita gunakan untuk memperbaiki bangunan sekolah Taman Kanak-Kanak yang merupakan peninggalan beliau,” ujar Pak Darso mengingatkan.

Hingga pada waktu yang telah ditentukan, sejak pagi, banyak orang sibuk membenahi makam Tuan Van Meijer dan istrinya. Menginjak hari ketiga, perbaikan itupun usai, makam Tuan Van Meijer tampak megah dan anggun di tengah tengah hamparan rumput yang menghijau.

Ya ... masyarakat memang sengaja mengosongkan sebidang tanah yang hanya ditumbuhi rerumputan untuk memakamkan kedua orang yang amat mereka hormati itu.




Sementara itu, Bidan Sri masih tampak mondar-mandir memberikan instruksi kepada tukang untuk memperbaiki bagian-bagian yang rusak dan membabat rerumputan yang tumbuh liar di sekeliling rumah.

Menjelang akhir minggu ketiga, rumah kuno itu tak lagi terkesan seram. Kini, yang tampak adalah sebuah bangunan kuno berwarna putih, di tengah-tengah hamparan rerumputan dan pepohonan bunga yang ditata apik dan tumbuh subur.

Bak magnet yang teramat kuat, dalam waktu singkat, Bidan Sri seolah kebanjiran pasien. Apalagi, beberapa kamar mulai ia gunakan sebagai tempat menginap para pasiennya.

Bersamaan dengan itu, kekayaan Bidan Sri pun terus saja bertambah. Tak hanya sawah, ia juga membeli beberapa rumah yang ada di sebelah dan di belakang rumah yang ditempatinya.

Namun tak banyak yang perhatikan, hampir tiap tahun, pasti ada dua atau tiga orang ibu yang gagal dalam persalinan. Semua dianggap wajar karena penanganannya sudah sesuai dengan standar hanya saja, yang gelisah adalah Pak Darmo.









Lelaki yang sedikit banyak menguasa ilmu kebatinan, merasakan ada sesuatu yang ganjil terhadap diri Bidan Sri.

Begitu juga dengan bidan Sri, ia seolah merasa bahwa setiap gerak yang dilakukan pasti diawasi oleh Pak Darmo. Oleh sebab itu, tak heran, jika bertemu, Bidan Sri pasti tampak salah tingkah. Ia seolah berhadapan dengan seorang lelaki yang mengetahui segala kekurangannya.

Pada tahun ketiga, ketika menginjak purnama penuh, saat sore, Pak Darmo sudah duduk berdiam diri di antara dua buah makam yang terbuat dari marmer yang indah.

Ketinggian kedua makam, membuat tubuhnya tenggelam. Sehingga, walau langit cerah dan purnama mulai malu-malu mengintip dunia, namun, tubuh Pak Darmo tidak bisa terlihat oleh siapa pun.

Malam itu, setelah menutup cipta, rasa dan karsa-nya, kabut tipis pun keluar dari dua makam yang ada di kiri dan kanannya. Semakin lama semakin tebal dan kemudian membentuk tubuh ... tak lama kemudian, tampak Tuan Van Meijer dan istrinya.

Tak seperti biasanya, kali ini penampilan keduanya benar-benar kusut. Tak lama kemudian, terdengar katanya,

“Darmo, kowe orang harus bersihkan rumahku seperti dulu lagi. Sekarang, rumah itu dipakai untuk tempat persembahan.”

Darmo hanya mengangguk. Setelah Tuan Van Meijer dan istrinya lenyap, Darmo pun segera beranjak dari tempatnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Beras kuning, kembang setaman dan uang logam dan ujung sapu lidi yang telah dimanterai disatukan,kemudian disebar disekeliling rumah yang ditempati Bidan Sri. Setelah itu, Pak Darmo pun berjalan ke sudut jalan untuk memperhatikan apa yang bakal terjadi.

Tepat tengah malam, segumpal awan menutupi sang dewi malam. Di tengah temaramnya suasana, mendadak, terdengar lolongan anjing malam. Tak lama kemudian, dari dalam rumah, terdengar suara jeritan perempuan yang memilukan.

Kegaduhan langsung saja terjadi. Beberapa perawat dan satpam tampak berlarian dengan wajah kebingunan. Semua panik.

Betapa tidak, tanpa sebab yang jelas, Bidan Sri yang tengah menangani pasiennya mendadak memegang lehernya dengan wajah tegang, kemudian jatuh, dan nafasnya pun terputus.


Semua hanya saling tatap. Tak ada satu kata pun yang terlontar dari mulut semua yang ada di ruangan itu, kecuali helaan napas berat.

Esoknya, ketika dimandikan, pada bagian leher, tampak lebam seperti bekas cekikan. Dan menjelang jenazah masuk ke liang lahat, keanehan pun terjadi. Mendadak, tanpa sebab, tubuh Bidan Sri mengeluarkan bau busuk yang teramat sangat.

SementaRa, dari dalam liang lahat, memancar air berwarna hitam yang berbau busuk.

Walau pindah tempat beberapa kali, namun, mereka selalu mendapatkan hasil yang sama. Akhirnya, terdasarkan kesepakatan, Bidan Sri tetap dimasukkan ke liang lahat yang memancarkan air berwarna hitam dan berbau busuk itu.

Sekembalinya dari pemakaman, terdengar celoteh di antara para pe!ayat. “Itu semua hasil dari perbuatannya,” hanya itu yang bisa diungkapkan oleh Pak Danmo, “Iebih baik, kita mendoakan agar dosa dosanya diampuni AIIah SWT’’ Ianjutnya lagi.

“Oh ... mungkin belakangan ini, Ia tidak bisa mempersembahkan bayi lagi,” demikian bisik Pak Kasdi.

“Hus,” kata Pak Darmo sambil memasang telunjuk di depan bibirnya.

“Pantas, dalam tiga tahun, kekayaannya bukan main. Empat rumah dan dua hektar sawah,” kata Pak Darmawan.







No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here